Saya memiliki asumsi istilah 'kacamata kuda' sudah begitu populer di kalangan pembaca. Alat ini dipasang pada kuda untuk membatasi pandangannya, agar ia bisa fokus pada jalan di depan dan tidak terganggu hal-hal di sekitarnya. Namun, istilah ini juga sering digunakan sebagai metafora untuk pandangan manusia yang sempit, yang terlalu fokus pada satu hal dan gagal melihat gambaran yang lebih besar.
Sebagai pendamping pembangunan desa, saya sering berkesempatan mengunjungi desa dan melihat langsung aktivitas yang ada. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah kegiatan ketahanan pangan desa, yang akrab disebut 'Ketapang'. Kegiatan ini menjadi sangat 'seksi' karena alokasi anggarannya yang besar, minimal 20% dari total Dana Desa (DD) 2025. Yang paling penting, kegiatan ini dicap berorientasi bisnis sehingga wajib menghasilkan profit atau keuntungan bagi desa. Beberapa kalangan menyebutkan harapan agar kegiatan Ketapang dapat memacu perekonomian desa. Modal dari Dana Desa dapat bergulir dan dikembangkan untuk beberapa tahun ke depan.
Subyektivitas Kacamata Kuda
Berdasarkan kacamata saya, jenis kegiatan Ketapang yang paling banyak dipilih oleh desa adalah bisnis ternak seperti ayam, kambing, kuda, dan sapi. Wajar jika Anda membayangkan aroma kotoran ternak di setiap kandang. Namun, ada aroma busuk yang tercium secara metaforis, bahkan di lokasi yang seharusnya sudah ada kandang ternak, tetapi kenyataannya masih kosong tanpa aktivitas apa pun.
Kalaulah sempat mampir ke desa, anda jangan heran kalau kadang lebih dulu menyapa bukan warga, tapi bau kandang. Lucunya, sering kali bau itu datang dari kandang yang… kosong.
Tak ada ayam, kambing, apalagi sapi. Yang ada hanya jerami kering, papan nama kegiatan, dan angka anggaran yang membuat mata melonngo.
Mengapa bisa begitu? Padahal, dananya sudah ada di rekening desa sejak beberapa bulan sebelumnya. Rencana usaha dan analisis kelayakannya pun sudah dipaparkan dalam Musyawarah Desa. SDM yang akan mengelola, yaitu BUM Desa sebagai pelaksana kegiatan, juga sudah terbentuk.
Fenomena ini mengingatkan saya pada peribahasa "tong kosong nyaring bunyinya." Gembar-gembor tentang proyek ini begitu kencang, namun isinya hampa. Dana sudah disiapkan, rencana sudah matang di atas kertas, tetapi realisasinya nol besar. Padahal, keuntungan yang diharapkan akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat desa.
***
Menerobos Kandang Stagnasi
Agar proyek ketahanan pangan tidak hanya menjadi wacana, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan. Pertama, perbaiki sistem perencanaan dan implementasi. Transparansi harus ditingkatkan, mulai dari alokasi anggaran hingga jadwal pelaksanaan. Setiap tahap harus bisa diakses dan diawasi oleh masyarakat, agar tidak ada ruang bagi "main mata" di belakang layar.
Kedua, tingkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengelola BUM Desa. Bukan hanya soal penunjukan, tetapi juga pelatihan yang berkesinambungan. Keterampilan praktis dalam berbisnis, mulai dari manajemen keuangan, pemasaran, hingga pengelolaan ternak, sangat krusial. Alih-alih hanya berfokus pada "kertas kerja," pelatihan harus mengarah pada kemampuan untuk "kerja nyata."
Ketiga, jalin kemitraan strategis. BUM Desa bisa bekerja sama dengan peternak lokal yang sudah sukses atau lembaga profesional. Dengan demikian, mereka bisa belajar langsung dan menerapkan praktik terbaik yang sudah teruji. Ini seperti seorang petani yang belajar dari tetangga yang panennya selalu melimpah. BUM Desa tidak harus memulai dari nol; mereka bisa mengadopsi model yang berhasil dan menyesuaikannya dengan kondisi lokal.
Pembangunan desa adalah kerja kolektif yang membutuhkan sinergi dari semua pihak. Melepaskan kacamata kuda berarti melihat potensi, bukan hanya masalah. Nelson Mandela, pernah berkata, "Selalu tampak mustahil sampai selesai Masalah."
atau dalam bahasa Inggris, "It always seems impossible until it's done," adalah kutipan terkenal dari Nelson Mandela yang menekankan bahwa tindakan yang terlihat sangat sulit atau mustahil akan menjadi mungkin jika dilakukan dan diselesaikan. Kutipan ini mendorong keberanian untuk memulai suatu upaya dan menunjukkan bahwa keberanian dan ketekunan adalah kunci untuk mencapai hal-hal besar yang awalnya terlihat tidak mungkin.
ini mungkin terasa besar, tetapi dengan kerja keras dan kolaborasi, kita bisa mengubahnya.
Penting bagi kita untuk bertanya apakah kita sudah melihat gambaran besar? Atau justru masih terperangkap dalam kacamata kuda, yang membuat kita hanya fokus pada hal-hal kecil, hingga melupakan esensi dari pembangunan itu sendiri? Mari kita ubah aroma busuk kegagalan menjadi aroma keuntungan dan harapan, sesuai dengan apa yang digagas dan disepakati bersama dalam forum warga.

Komentar
Posting Komentar