Penulis; Surya Dharma
Sorotan tajam diarahkan pada Tenaga Pendamping Profesional (TPP), mereka yang sering disebut mata dan telinga negara di desa. Namun, workshop ini membuktikan bahwa sang Pahlawan Sunyi ini tidak luput dari badai. Tantangan beban kerja yang memanggul langit dan tuntutan kesejahteraan yang belum sepenuhnya berpijak pada bumi menjadi pembahasan inti.
°°°°°°°
Di tengah heningnya komitmen kebangsaan, sebuah perhelatan penting telah usai, meniupkan angin segar sekaligus memantik nyala kritik konstruktif. Berjudul Workshop Evaluasi Pendampingan Program Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025, kegiatan ini bukan sekadar agenda birokrasi, melainkan sebuah safari mencari solusi di mana masa depan generasi disematkan.
Pertemuan ini digelar dengan satu maksud mulia: mengurai benang kusut kinerja dan efektivitas para Pendamping Desa, mereka yang menjadi jantung kebijakan di palung terpencil nusantara.
°°°°°°°
Kolaborasi: Menyatukan Sayap-Sayap Elang
Tujuan utamanya adalah menaikkan layar sinergitas. Sebab, berdasarkan refleksi dan diskusi tajam, Tembok China sektoral harus diruntuhkan. Percepatan penurunan stunting, layaknya merawat sebuah pohon tua yang rapuh, tidak bisa dilakukan oleh satu tangan saja. Ia menuntut tarian kolaboratif antara Kementerian Desa PDTT, Kemendagri, Bappenas, Kementerian Kesehatan, dan seluruh Pemerintah Daerah.
Workshop ini menjadi dermaga persinggahan untuk menyamakan irama gerak, memastikan semua kementerian dan lembaga melantunkan melodi yang sama demi gizi optimal anak-anak desa.
°°°°°°°
Evaluasi ini bertujuan menggali jurang antara idealisme pendampingan dengan realita lapangan, agar peran TPP dapat memancarkan cahaya yang lebih maksimal kepada masyarakat desa. Selain itu, Kerangka Regulasi (Kepmendes tentang Juknis Pendampingan) juga disisir, memastikan pendampingan berjalan di jalur emas hukum yang berlaku.
°°°°°°°
Dari Pelakar Jaya: Oase di Tengah Gurun
Dari ruang diskusi, muncullah mutiara harapan berupa praktik baik. Hasil yang paling ditunggu adalah tersusunnya rekomendasi strategis yang menjadi kompas baru bagi pola pendampingan.
Lebih menggetarkan lagi, teridentifikasinya desa-desa pencerah yang sukses menurunkan stunting. Desa Pelakar Jaya disebut-sebut sebagai oase di tengah gurun, sebuah bukti nyata bahwa ketika Dana Desa dan Pendapatan Asli Desa (PAD) diolah dengan bijak, ia menjelma menjadi sumber mata air untuk intervensi gizi dan bantuan sosial. Kesuksesan mereka menjadi cermin perak yang siap direplikasi.
Pada akhirnya, Workshop ini bersepakat untuk segera menggelar Focus Group Discussion (FGD). Ini adalah tahap penempaan besi untuk merumuskan langkah tindak lanjut yang sekonkret batu karang bagi Dinas PMD Provinsi dan Kabupaten/Kota.
°°°°°°°
Epilog: Tanggung Jawab yang Tak Terbagi
Kesimpulan dari seluruh paparan narasumber dan riuh diskusi adalah sebuah kebenaran yang sehangat mentari pagi: percepatan penurunan stunting adalah pesta kolaborasi dan bukan pagelaran tunggal. Ia menggantungkan nasibnya pada sinergi lintas sektor.
Peran Pendamping Desa (TPP) adalah jangkar utama di lapangan, namun kapal besar ini tidak boleh berlayar sendiri. Pendamping layaknya tiada sendiri, kerja sunyi di garis depan.
Pendampingan harus dipastikan mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah (Provinsi/Kabupaten) adalah mandat wajib, karena tugas pendampingan adalah sumpah bersama, bukan sekadar beban dari pusat.
Kemandirian desa melalui PAD terukir sebagai saksi bisu bahwa kearifan lokal dapat menjadi sayap alternatif pendanaan yang efektif. Ini adalah panggilan bagi seluruh daerah: Mari kita satukan langkah, sebab setiap inci pertumbuhan anak adalah martabat bangsa.
°°°°°°°

Komentar
Posting Komentar